RIADHUS SOLIHIN (1) : Niat Ikhlas – Hadith 13: Kisah 3 Pemuda Terperangkap Dalam Gua




  • Print Friendly

    hadis kisah 3 pemuda terperangkap di dalam gua
    hadis kisah 3 pemuda terperangkap di dalam gua
    hadis kisah 3 pemuda terperperangkap di dalam gua
    hadis kisah 3 pemuda terperperangkap di dalam gua

    Abdullah bin Umar r.anhuma. berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda,

    “Terjadi pada masa dahulu sebelum kamu, tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam di dalam gua.

    Tiba-tiba ketika mereka sedang berada di dalam gua itu, jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar.

    Maka berkatalah mereka, “Sungguh tiada suatu yang dapat menyelamatkan kita daripada bahaya ini, kecuali jika tawasul kepada Allah dengan amal-amal soleh yang pernah kita lakukan dahulu.”

    Maka berkata seorang daripada mereka,

    “Ya Allah, dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya tidak memberi minuman susu pada seorangpun sebelum keduanya (ayah ibu), samada kepada keluarga atau hamba sahaya.

    Maka pada suatu hari aku menggembala ternak pada suatu tempat yang agak jauh, hingga kembali kepada kedua ibu bapaku sesudah malam dan ayah bundaku telah tidur.

    Maka saya terus memerah susu untuk keduanya, dan saya pun malu untuk membangunkan keduanya dan tidak memberikan minuman itu kepada sesiapapun sebelum ayah bundaku itu.

    Maka saya tunggu keduanya hingga terbit fajar, setelah bangun kedua-dua mereka dan minum dari susu yang saya perahkan itu.

    Padahal semalaman itu juga anak-anakku menangis minta susu itu di dekat kakiku.

    Ya Allah jika saya berbuat itu benar-benar karena mengharapkan keredaanMu, maka lapangkanlah keadaan kami ini.”

    Maka menyisih sedikit batu itu, tetapi mereka belum dapat keluar daripadanya.

    Berdoa pula orang yang kedua,

    “Ya Allah dahulu saya pernah jatuh cinta kepada anak gadis bapa saudaraku, maka kerana terlalu cintakannya, saya selalu merayu dan ingin berzina dengannya, tetapi dia selalu menolak.

    Terjadi pada suatu ketika dia menderita kelaparan dan datang meminta bantuan kepadaku, maka saya berikan kepadanya wang seratus dua puluh dinar, tetapi dengan janji bahwa dia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya.

    Gadis itu melakukan suruhanku kemudian ketika saya telah ‘berkuasa’ ke atasnya

    – riwayat lain menyebut ‘Maka apabila aku telah berada /duduk di antara dua kakinya’, tiba-tiba dia berkata: “Takutlah kepada Allah dan jangan kau pecahkan tutup (dara) kecuali dengan cara yang hak (halal – nikah).”

    Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkannya, dan saya tinggalkan dinar emas yang telah saya berikan kepadanya itu.

    “Ya Allah bila saya berbuat itu semata-mata karena mengharap keredaan-Mu, maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini.”

    Maka bergeraklah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka belum juga dapat keluar daripadanya.

    Berdoa orang yang ketiga,

    “Ya Allah saya dahulu sebagai majikan dan mempunyai pekerja.

    Pada suatu hari ketika saya membayar upah mereka, tiba-tiba ada seorang daripada mereka yang pergi meninggalkan upahnya pulang ke rumahnya tidak kembali.

    Maka saya perniagakan upahnya itu hingga bertambah dan berbuah menjadi berganda-ganda banyaknya. Setelah sekian lama datanglah buruh itu berkata, “Hai Abdullah berikan kepadaku upahku dahulu itu?”

    Jawabku, “Semua kekayaan yang didepanmu itu daripada upahmu yang berupa unta, lembu dan kambing serta budak penggembalanya itu.”

    Berkata orang itu, “Hai Abdullah, kau jangan mengejek kepadaku.”

    Jawabku, “Aku tidak mengejekmu.”

    Maka diambilnya semua yang saya sebut itu dan tidak meninggalkan satupun daripadanya.

    “Ya Allah jika saya berbuat demikian karena mengharapkan keredaan-Mu, maka hindarkan kami dari kesempitan ini.”

    Tiba-tiba menyisihlah batu itu hingga mereka dapat keluar mereka dengan selamat.

    (Bukhari, Muslim).

    Hadis ini menunjukkan:

    i. Betapa besarnya faedah amal perbuatan yang tulus ikhlas, sehingga dapat dipergunakan untuk bertawasul kepada Allah dalam usaha menghindarkan bahaya yang sedang menimpa.

    ii. Seorang suami harus mengutamakan ibu bapanya daripada anak isteri.

    iii. Kebesaran nilai menahan hawa nafsu, dan tidak rakus terhadap harta upah pekerja.

    Tajuk akan datang : Taubat.

    Rujukan: Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN 1. Bandung: PT ALMA’ARIF. m.s 19 – 22

    Hadis ini di facebook: Kisah 3 Pemuda Terperangkap Dalam Gua (klik)

    Comments

    comments

    Author: dusakal thooluut

    Passion terhadap aktiviti blogging. Semoga Islam tersebar ke seluruh alam. Dunia sementara, akhirat kekal.

    Share This Post On